Persahabatan Islam dengan Budaya Jepang

Menjadi muslim di negeri minoritas, menjadikan diri harus berupaya menjaga iman, salah satunya dengan berkumpul bersama orang Soleh. Seperti sebuah syair TOMBO ATI yang sangat terkenal :

Tombo ati iku limo perkarane.

Kaping pisan moco Qur’an lan maknane.

Kaping pindo sholat wengi lakonono.

Kaping telu wong kang sholeh kumpulono.

Kaping papat kudu weteng ingkang luwe.

Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe.”

Bulan November 2019 lalu, saya berkesempatan berkumpul dengan Komunitas Muslim Fukuoka untuk mengkaji bersama, dengan tema tentang “persahabatan Islam dengan budaya Jepang”. Apa kiranya, irisan dari keduanya, mampukah dua hal berbeda ini bersatu?

Salah satu narasumber adalah Ibu Hanik, yang sudah puluhan tahun tinggal di Jepang. Ada beberapa hal yang bisa saya bagi disini.

Bahwa setiap diri kita ini sejatinya adalah “Nahnu Du’at Qobla Kulli Syai'”. Sebuah ungkapan, yang mencerminkan posisi kita, sebagai pengemban/penerus risalah Rasulullah SAW. “Kita (adalah) da’i, sebelum apapun.” Ya! benar, sebelum menjadi apapun kita adalah da’i. Kita pelajar, juga da’i. Mau jadi mahasiswa, jadi da’i juga. Mau kerja, ya jadi da’i di tempat kerja. Di organisasi, ya kita pun berda’wah pula di dalamnya. Bisa dikatakan, hidup kita memang tak terpisahkan untuk terus berda’wah. Dimanapun kita, saat kapanpun, dan dalam kondisi apapun. Termasuk saat Allah takdirkan untuk hidup di negara Jepang yang memang minoritas muslim ini.

Lalu kita harus berbuat apa? Secara budaya, juga kebiasaan sudah pasti muslim berbeda dengan masyarakat Jepang. Kalau kata Ibu Hanik, “Yuk bersahabat dan beramal dengan budaya Jepang tapi tetap dalam koridor dan bingkai Islam.” Apalagi kita sebagai seorang muslim, sebenarnya terbantu dengan adanya titik temu antara islam dan budaya Jepang. Apa sajakah itu?

Pertama, Allah perintahkan kita untuk tidak boros :

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Surat Al-Isra Ayat 27)

Jika diperhatikan, masyarakat Jepang memang bisa dipastikan anti membuang makanan. Mereka ada program diskon menjelang tutup toko untuk bahan mentah seperti seafood, biasanya dimulai sekitar jam 17.00. Dengan harapan semua stok di toko bisa ludes tak bersisa. Untuk anak yang usia lebih kecil, karakter ini juga diajarkan. Saya ada cerita disini.

Kedua, nabi kita Muhammad SAW memberi teladan untuk menjaga hak orang lain juga pandai menahan diri :

“Seorang mukmin yang sempurna yaitu manusia yang merasa aman darah mereka dan harta mereka dari gangguannya.” (HR Tirmidzi dan AnNasai)

Barangkali sudah pernah mendengar, bahwa barang apapun yang tertinggal di kereta-kereta Jepang, tidak akan ada orang yang mengambilnya, malah terkadang barang tersebut masih bisa ditemukan oleh si pemilik di tempat yang sama. Atau bisa kita perhatikan sepeda yang berjejer di parkiran atau halaman rumah orang Jepang tanpa dikunci dan aman-aman saja di tempat itu.

parkiran sepeda di Jepang

Ketiga, Allah perintahkan umatNya untuk membaca/”Iqro‘!” :

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling Pemurah. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya.” (Surat Al-‘Alaq Ayat 1-5)

Kisah yang pernah saya tuliskan di FaceBook ini barangkali bisa menjadi gambaran bagaimana budaya gemar membaca di negeri sakura. Bahkan sudah ditanamkan kebiasaan ini pada anak Jepang di usia dini.

Sudah dijabarkan tiga titik temu yang membantu kita sebagai muslim hidup berdampingan dengan budaya Jepang. Mirip bukan dengan ajaran agama kita? Tentu sebagai seorang muslim kita harus pandai membawa diri, belajar menjadi muslim yang cerdas secara intelektual maupun sosial, bekali diri dengan banyak membaca tentang ajaran islam maupun budaya Jepang. Dan yang tidak kalah penting, jadilah ambassador Islam yang mengamalkan ajaran Islam. “Let’s show Islam, talk less about Islam, do the best, and let Allah do the rest.” Semoga Allah senantiasa selalu melindungi dan menjaga keimanan kita dimanapun kita berada, baik yang sedang tinggal di negeri muslim mayoritas maupun yang sedang mengemban amanah di negeri muslim minoritas. Aamiin.

Salam dari saya,

Alvika Hening Perwita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *