Ramadhan di Jepang

“Teriknya Sengatan Matahari Jepang di Akhir Ramadhan”

oleh Alvika Hening Perwita

dibuat 29 Mei 2019

untuk keperluan kirim artikel ke detikcom, kerjasama dengan PPI dunia (Perhimpunan Pelajar Indonesia), sumber informasi : PPI Jepang

artikel ini sudah tayang di detikcom ini dan detikcom ini

Tantangan Ramadhan di negeri Sakura yang pertama lebih ke durasi puasa. Di akhir musim semi ini, matahari di Jepang tenggelam sekitar pukul 19.00 sehingga seringnya merasa jetlag dengan lama waktu puasa. Jika di Indonesia terbiasa berbuka pukul 18.00 maka di tanah rantau ini harus bersabar dulu kurang lebih satu jam.

Sengatan matahari di akhir musim semi dan mendekati summer session ini juga cukup membuat ubun-ubun nyut-nyutan. Walau suhu masih berkisar 30 derajat, namun rasa panasnya lebih terasa nyelekit di kulit. Terlebih di minggu keempat Bulan Mei, sekolah-sekolah di Jepang sedang menggelar acara tahunan yang dikenal dengan istilah undokai.

undokai (festival olahraga anak sekolah di Jepang)

Undokai atau semacam festival olahraga digelar di setiap TK, SD, SMP, dan SMA. Dalam undokai ini, peran orang tua harus menemani dan menyemangati sang anak saat berkolaborasi dengan teman-temannya. Bisa terbanyangkan, menjalani Ramadhan bersamaan dengan kegiatan lari, menari, dan semacamnya di tengah lapangan yang terik?

undokai, bukan kemenangan yang dicari tapi mengasah kerjasama kelompok

Dalam undokai juga ada sesi makan bento bersama di saat jam istirahat. Melihat kawan-kawan lahap memakan  bento, tentu juga menjadi ujian kesabaran selanjutnya.

Walaupun lama waktu puasa juga cuaca terkadang menjadi tantangan tersendiri, maka semangat Ramadhan ini perlu dibakar kembali dengan mencari komunitas sesama muslim. Di Prefektur  Fukuoka tempat kami tinggal, ada Al Nour Islamic Culture Center. Letaknya cukup strategis, sekitar 300m dari stasiun kereta terdekat, yaitu Stasiun Hakozaki.

masjid di Fukuoka Jepang

Masjid yang didirikan di tahun 2009 ini terdapat 4 lantai. Lantai basement untuk dapur dan aula jamaah laki-laki. Lantai satu untuk solat jamaah laki-laki. Lantai dua untuk solat jamaah perempuan. Dan lantai empat untuk dapur dan aula jamaah perempuan.


Al Nour Islamic Culture Center, masjid di Fukuoka diresmikan tahun 2009
lantai dua masjid Fukuoka

Masjid juga menjadi sarana untuk bernostalgia kuliner negara asal. Dalam sajian ifthar biasanya mewakili makanan khas dari suatu negara. Namun jangan harapkan berbuka dengan menu lengkap yang khas seperti di Indonesia. Keterbatasan tinggal di tanah rantau, menjadikan diri tetap semangat mencari solusi. Jangan mengharapkan sesuatu yang tak pernah ada, namun selalu syukuri apa yang ada di depan mata.

Di lingkungan masjid ini bisa ditemukan komunitas muslim dari beberapa negara di Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Tengah, Eropa Timur, juga Afrika Utara. Komunitas ini bersatu, bekerjasama, bergantian menghidupkan masjid dengan melaksanakan Ifthar juga solat taraweh. Tidak hanya masyarakat muslim saja, non muslim bahkan warga Jepang yang tertarik dengan islam dapat juga bergabung.

Bahkan masjid ini bisa lho berdampingan dengan tempat kremasi hewan yang bagi masyarakat Jepang dianggap tempat yang sakral. Masjid ini letaknya tepat berhadapan dengan kremasi hewan yang sering dijaga oleh polisi. Indahnya Islam. Indahnya Ramadhan.

* Oleh : Alvika Hening Perwita, tinggal di Jepang, dalam rangka mensupport suami yang sedang studi lanjut di Kyushu University dan juga anggota PPI Fukuoka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *