Cara Efektif Mengatasi Tantrum

Balita tantrum? Berteriak, berguling, atau menangis tiada henti? Bisa dicoba dengan membiasakan membuat kesepakatan. Percaya ga Mom kalau Balita itu pandai bernegosiasi seperti seorang diplomat sejati?

Saat balita sudah mulai bisa bicara, kemampuan berceritanya tentu kian meningkat. Potensi ini bisa orang tua manfaatkan untuk mengasah skill negosiasi. Mengapa? Dengan kita melakukan negosiasi ini, tentu akan lebih mudah mengendalikan tantrumnya. Karena komunikasi sudah berjalan dua arah.

Namun terkadang saat kemampuan bicaranya kian meningkat, balita menjadi banyak juga keinginannya alias banyak mau. Ingin ini, ingin itu. Bahkan episode tantrum ini ada yang dibarengi dengan kelakuan fisik, entah memukul, menendang, atau bahkan menyakiti diri sendiri. Kembali ke senjata awal Mommy : PELUK ANAK

Tenangkan balita yang sedang tantrum sambil diusap, diajak bicara pelan. Misal, “Kakak, kalo nendang begitu sakit loh, coba anteng sebentar Ayah ajak lihat ikan yuk.” Disini peran Ayah penting sekali saat anak sudah mulai tantrum dengan mengandalkan fisik, karena pelukan Ayah biasanya lebih kuat untuk mengendalikan.

Saat menenangkan tantrum balita, jangan kita sebagai orang tua malah ikutan tinggi nada bicaranya ya Mom. Catat ini. Orang tua tidak perlu emosi. Karena emosi anak tantrum harus dilawan dengan SABAR.
.
Tantrum untuk usia toddler seperti ini perlu kita “alihkan” juga Mom. Alihkan dalam arti kata POSITIF dan LOGIS, bukan dalam rangka untuk membohongi. Misal : kalo kakak nangis terus, nanti ditangkap polisi loh. Kasihan sekali anaknya, sudah dibohongi, ga logis pula ya. Mengalihkan tantrum ini diperlukan untuk menenangkan anak.

Saat tantrum, anak juga tidak perlu dinasehati dahulu, karena anak kondisi emosinya masih belum stabil. Nanti ya Mom ada waktunya saat anak tenang bisa dinasehati. Biasanya sewaktu BED TIME mereka lebih tenang, sehingga bisa kita beri afirmasi positif, bahwa perilakunya menendang tadi kurang baik.
.
Selanjutnya tentang solusi tantrum yang perlu menjadi catatan, walau anak masih kecil, jangan pernah anggap anak itu tidak mengerti apa apa. Pada dasarnya semua anak cerdas, asalkan kita memberi stimulus yang tepat dan benar. Sedari awal harus tegas. Tegas dengan kasih sayang. Misalnya :
.
👶Kalo waktunya makan ga sambil nonton TV.
👧Atau kalo belum makan nasi dan lauk ga bisa makan jajan seperti es krim.
👦Dan yang paling viral jaman now, kalo ke minimart dan udah deket kasir enggak perlu meraung-raung minta “coklat hits” (pasti bisa nebak kan Mom?).

Balita memang perlu dibiasakan dengan aturan. Karena kalau aturan dasar begini mereka terbiasa, maka akan lebih mudah untuk menaklukkan tantrum tadi. Aturan seperti ini bukan untuk melarang balita tetapi mengajarkan KESEPAKATAN sekaligus mengarahkan our little sweet toddler.

membuat kesepakatan dengan balita
www.fairuz.id

Peran orang tua untuk mengatasi tantrum sangat berhubungan erat dengan saat mengajarkan kesepakatan pada anak. Dan juga, skill negosiasi memang harus dilatih pada balita. Ini merupakan kemampuan penting untuk dikuasai anak, kelak saat mereka dewasa.

Tantrum berkaitan erat dengan pilihan dan konsekuensi. Di masa depan, balita akan menghadapi keduanya. Karena hidup selalu penuh dengan PILIHAN sepaket dengan KONSEKUENSInya. Setuju Mom?

to be continued…

Materi “Tantrum pada Anak, Apa Solusinya?”
Oleh Alvika Hening Perwita, M.I.Kom ~ pegiat parenting, pernah menjadi Kontributor Buku Homemade Healthy Baby Food (buku recommended tentang MPASI), sekaligus Owner dan Konsultan kidsbook edutoys di Instagram @fairuzedustore
Disampaikan pada #bcaug17xfairuzbookstore

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *